Sejarah tenis lapangan

SEJARAH TENIS DI INDONESIA

 

image title

Tennis, kita ketahui, adalah permainan atau olah raga dengan menggunakan raket dan bola. Dalam olah raga yang juga disebut lawan tennis raket dipukulkan ke bola sambut menyambut – oleh seorang atau sepasang pemain yang saling berhadapan – ke seberang jaring yang sengaja dipasang di sebidang lapangan empat persegi panjang.
Tadinya, sekitar abad ke-I6, tennis dimainkan di Italia, Prancis, dan lnggris, ketika lapangan mainnya dibangun di balik dinding-dinding istana kcrajaan. Tapi tennis modern diperkenalkan oleh Mayor Wingfield di Inggris pada 1873, dan setahun kemudian oleh Nona Mary Outerhridge di Amerika Serikat. Lapangan-lapangan permainannya pun dibangun di kedua negeri itu. Kejuaraan tennis pertama dilangsungkan di Wimbledon, kota kecil sekitar 12 km di barat daya London, Inggris. Persatuan Tennis AS didirikan, 1881. berbagai kejuaraan amatir diselenggarakan di beberapa negara, yang mengundang datangnya beribu-ribu penonton. Mula-mula hanya memainkan partai tunggal putra, diikuti partai tunggal putri tiga tahun kemudiannya.
Tahun 1900 adalah saat bersejarah bagi tennis. Pada tahun itulah Dwight Davis, bintang ganda AS, mcnghadiahkan sebuah piata Perak untuk diperebutkan dalam turnamen antarnegara, yang kcmudian tenar sebagai “Davis Cup” . Dalam pertandingan internasional pertama antara AS dan Inggris, Amerika unggul 3-0.
Kian populer dan majunya olah raga tennis, tak ayal telah mendorong didirikannya “Federation Internationale de Lawn Tennis” (Federasi Tennis Intcrnasionsl) pada 1912.
  1. Di Indonesia: Lahirnya PELTI

    Besar kemungkinan, orang Belandalah yang memperkenalkan tennis di Indonesia, walaupun tidak mustahil pula permainan ini dibawa para pelaut Inggris yang singgah di kota-kota besar Kepulauan Nusantara. Sayang arsip-arsip berbagai perkumpulan milik warga negara Belanda yang pernah berdiri di negeri ini telah hilang, hingga kita tidak bisa melacak mana di antara dua perkiraan itu lebih benar.

    Namun yang jelas, di negeri mana pun, olah raga ini mulai dimainkan dan lebih dikenal di kalangan bangsawan, hartawan, dan kaum terpelajar. Juga di Indonesia. Apalagi di zaman penjajahan Belanda. Di masa itu hanya segelintir kaum pribumi yang mampu mengayunkan raket tennis, sedang jumlahnya yang lebih besar terdiri dari orang Belanda dan Cina. Itu pun hanya di kota-kota besar.

    Jumlah kaum pribumi penggemar tennis mulai meningkat pada tahun-tahun 1920-an ? seiring kian banyaknya murid-murid Indonesia mcmasuki sekolah sekolah menengah, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Mereka – umumnya para siswa Stovia, Rechrsschool, dan -NIAS – pada gilirannya memperkenalkan olah raga ini ke kalangan yang Iebih luas. Tennis pun mulai dimainkan atau dipertandingkan dalam kegiatan berbagai organisasi pemuda di masa itu. Olah raga inipun mulai dilihat sehagai penghimpun massa, terutama oleh kaum nasionalis yang mencitacitakan Kemerdekaan Indonesia.

    Lahirnya Boedi Oetomo, 1908, dan kemudian Soempah Pemoeda, 1928, memang senantiasa menghangati setiap langkah dan gerak kaum muda di kurun itu. Maka tidak heran bila penjajah Belanda selalu mengintip dan memantau setiap gcrak-gerik pergerakan pemuda, yang nonpolitik apalagi yang berbau politik. Terhadap gerakan yang diduga kecenderungan politik, tindakan pcmbatasan segera dilakukan. Toh serangkaian rintangan itu tidak membuat kaum muda patriotik kehilangan akal. Disemangati sumpah Satoe Noesa, Satoe Bangsa, Satoe Bahasa, mereka melebur beberapa organisasi pemuda yang berpolitik ke dalam satu wadah baru yang disebut Indonesia Moeda, pada 1930.

    Latar belakang lahirnya Indonesia Moeda jelas berangkat dari larangan bagi kegiatan politik yang diberlakukan kepada mereka. Mereka berkeyakinan, hanya dengan menggerakkan aktivitas sosial masyarakat baru bisa dicapai persatuan seluruh rakyat menuju kemerdekaan. Di dalamnya juga termasuk kegiatan olah raga. Setiap pemuda yang sehat dan ingin sehat tentu menggernari olah raga, yang di dalamnya sportivitas dan sifat kompetitif merupakan satu sisi dari mata uang, dan pada gilirannya dapat membangkitkan patriotisme.

    Semangat cinta Nusa dan bangsa ini nyatanya memang berkembang di kalangan olahragawan Indonesia, termasuk di antara para petennis. Pada semacam kejuaraan nasional yang diadakan oleh De Alegemeene Nederlandsche Lawn Tennis Bond (ANILTB) di Malang, Jawa Timur, akhir 1934, tiga wakil pribumi mampu berjaya. Di partai tunggal putra, dua saudara Soemadi dan Samboedjo Hoerip maju babak final, yang pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Samboedjo. Yang lebih mengesankan adalah dua partai berikutnya, yang memperagakan keunggulan anak jajahan atas penjajahnya. Yang pertama, pasangan ganda putra Hoerip Bersaudara, yang menggilas pasangan Belanda, Bryan/Abendanon, 6-3, 6-4 di final. Juara ganda campuran juga diraih keluarga Hoerip, Samboedjo dan Soelastri, yang mendepak pasangan “penjajah” , Bryan/Nn. Schermbeek, 6-4, 6-2 ? sekaligus mencetak gelar pemegang juara tumarnen ANILIB tiga kali beruntun, 1932-19.34.

    Prestasi ini tak ayal mendorong Indonesia Moeda mcngadakan Pekan olah raganya sendiri, yang berlangsung pada tiap hari ulang tahun atau pertemuan tahunannya. Tennis, tentu, termasuk di antaranya cabang-cabang yang dipertandingkan. Salah Satu di antaranya yang dilaksanakan pada Desember 1935 di Semarang – yang juga sekaligus menjadi saat dicetuskannya pembentukan Persatuan Lawn Tcnnis Indonesia (PELTI).

    Kejuaraan ini sendiri diprakarsai oleh dr. Hoerip yang diakui sebagai Bapak Tennis Indonesia. menghimpun 70 petennis dari seluruh Jawa, kejuaraan ini dipantau dan mendapat perhatian serius dari pihak kolonnial Belanda. Itu tercermin dari pemuatan peristiwa penting olah raga tennis tersebut dalam surat kabar De Locomotif 30 Desember 1935. dengan Judul yang kalau diterjemahkan berbunyi : “Kejuaraan Tennis Seluruh Jawa dari Pcrsatuan Lawn Tennis Indonesia” . Namun, di pihak lain, ini juga berarti pengakuan pihak Belanda bahwa ANILTB telah mendapatkan saingannya.

    Tanggal 26 Desember 1935 kemudian dicatat sebagai kari lahirnya PELTI

    Gagasan pendirian PELTI sendiri, yang dikemukakan pada Kejuaraan Tennis di Semarang itu. berasal dari Mr. Budiyanto Martoatmodjo. tokoh tennis dari Jember – ia kemudian dianggap sebagai pencetak dasar utama pendirian organisasi PELTI. Ketika mcnguraikan azas dan tujuan pendiriannya ia mcngatakan bahwa PELTI, sebagaimana organisasi kebangsaan lainnya, sama sekali “Tidal bersifat mengasingkan diri.” Maka PELTI akan selalu siap bekerja lama dengan persatuan tennis manapun dan apa saja, asal atas dasar saling menghargai.

    Diungkapkan pula. tujuan praktis utama PELTI adalah mengembangkan dan memajukan permainan lawan tennis di tanah air dan bagi bangsa sendiri. Dengan cara ini. Iebih jauh, diharapkan akan dicapal tali persaudaraan yang erat di antara segala perhimpunan dan pemain tennis bangsa Indonesia. PELTI juga akan menyebarluaskan peraturan permainan, memberi keterangan dan bantuan dalam pembuatan lapangan tennis. Juga mengadakan dan mengatur serta menyumbang bagi terlaksananya pertandingan, di samping berusaha memasyarakatkan permainan tennis itu sendiri.

    Gagasan pendirian PELTI mendapat dukungan yang memadai, khususnya di kalangan yang berani mengambil resiko berhadapan dengan pemerintah kolonial, termasuk dari kalangan yang terpandang. Di Semarang saja, para simpatisan semacam itu tidak sedikit jumahnya. Misalnya: Dr. Buntaran Martoatmodjo (yang kemudian, sejak 1935, menjadi ketua PELTI lima tahun berturut-turut), Dr. Rasjid, Dr. Mokhtar, Dr. Sardjito, R.M. Soeprapto, Nitiprodjo, dan beberapa lainnya. Dari Para tokoh berbagai kota Iainnya, dukungan diwakili oleh: Mr. Budhiyarto Martoatmodjo (Jember), R.M. Wazar (Bandung), Djajamihardja (Jakarta), Mr. Susanto Tirtoprojo (Surabaya), Mr. Soedja (Purwokerto), Berta Mr. Oesman Sastroamidjojo, ahli olah raga tennis yang namanya terkenal di Eropa.

    Pada umumnya, mereka memandang simpatik gagasan Dr. Hoerip, yang sebernarnya sudah dicetuskan sejak 1930, diilhami oleh berdirinya PSSI pada 30 April tahun itu. Tapi para tokoh tadi berbeda pendapar dalam beberapa hal, terutama mengenai saat yang tepat bagi pendirian Induk organisasi tennis Itu. Dari berbagai sikap yang lahir – revolusioner, moderat, plintat-plintut – akhirnya golongan tengahlah yang merupakan mayoritas. Pengalaman pahit saat-saat pendirian PSSI tampaknya menjadi cermin pembanding bagi para pelopor PELTI, hingga mereka memilih bersikap Iebih hati-hati menghadapi reaksi pemerintah Belanda – mereka tentunya tidak senang melihat setiap kegiatan yang bersifat mempersatukan kekuatan. Para pendiri PELTI tidak Ingin organisasi yang akan mereka dirikan mati dalam kandungan. Itulah sebabnya PELTI baru berdiri lima tahun kemudian, 1935.

  2. Era Pengembangan (1936 . 1940)
    Saudara sekandung, namun latar belakang pendirian PSSI dan PELTI bertolak punggung. Kalau PSSI lahir berdasarkan kesatuan pendapat berbagai perkumpulan sepakbola – yang nyata-nyata ingin rnemisahkan diri dari Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda – PELTI dilahirkan oleh gagasan perorangan yang sekaligus menggerakkan nya. Karena itu, kelemahan utama PELTI sejak awal Iahirnya adalah dibidang organisasi. Tidak jelas siapa yang sebenarnya berhak menjadi nnggotanya: persatuan/ daerah, perkumpulan/klub, atau perorangan. Inilah yang dimanfaatkan secara baik oleh ANILTB dengan menetapkan politik devide et impera -nya.

    Praktek “pecah dan kuasailah” Itu berangkat dari kecemburuan dan kekhawatiran – cemburu tersaingi dan kehilangan pamor, khawatir PELTI menjadi perpanjangan kegiatan politik untuk mencapal kemerdekaan. Dua hal Ini tersirat dalam bcrita surat kabar De Indische Courant, yang terbit di Surabaya. Sabtu 13 April 1936: Bagi Kedirische Tennisbond (Pcrsatuan Tennis Kediri milik orang Belanda – Red.) tahun lewat sangat penting . Tennis mulai berkembang di kalangan rakyaf di luar masyarakat Belanda.”

    Mereka tampaknya cemas melihat bermunculannya bibit-bibit muda berbakat di kalangan warga Indonesia. khususnya di kota-kota besar. Misalnya. di Bandung: A.A. Katili, Ketje Soedarsono, Carebert Singgih. Caroline Singgih, dan Soedjono. Di Solo: Panarto, Soeharto, Srinado, dan Soeparis. Di Surabaya: Doelrachman, Lantip, Tumbelaka, dan Latumeten.

    Dan Inilah yang dilakukan keempat “Pendawa” Surakarta: di bawah pimpinan Pangceran Soerjohamidjojo, mereka (Panarto, Soeharto, Soeparis, Srinado) menyerbu geIanggang Bandoengsche Tennis Unie

    (BTU). Ketika itu, 1937, Soeparis yang baru berusia 15 tahun menyapu bersih seluruh lawannya, dengan flying forehand-nya yang patent itu. Bahkan jago pihak sana, Cooke, ikut tersikat. ANILTB pun tergeser.

    Akibat Iebih jauh, PELTI lalu dianggap rival serius oleh ANILTB. Padahal waktu itu, berbagai persatuan dan klub tennis di kota-kota besar, seperti Persatuan Tennis Indonesia Bandung (PTIB) dan di Jakarta, belum menjadi anggota PELTI. Namun, dalam keadaan demikian, dan dalam langkahnya dana, organisasi tennis Indonesia “asli” itu sanggup menyclenggarakan turnamen tahunan. Maka tak terlalu salah bila pihak Belanda mengendus sesuatu yang berbau idealisme politik di dalam tuhuh PELTI.

    Menganggap sudah begini berbahayanya sang rival, maka menjelang kejuaraan PELTI, 1937, di Yogyakarta, ANILTB- mengharuskan PELTI bergabung dengannya. Bahkan dengan nada yang mengancam keselamatan PELTI. Ancaman ini sempat menggoyahkan organisasi tennis Indonesia itu, sampai lahir usul agar diadakan scmacam gentlemen’s agreement (perjanjian persahabat-an). Tapi usul itu ditentang keras oleh I’B PELTI.

    Ada baiknya dikutip risalah rapat PELTI, yang dikeluarkan pada tahun 1939:

    “Ketua PELTI: Mengenai gcntlement’s agreement itu, sebaiknya kita menunggu saja dahulu dan mengarnbil sikap berhati-hati dan waspada. Yang paling penting bagi kita adalah masuknya semua persatuan-persatuan tennis dahulu. Per tandingan persahatan dan dengan ANILTB dapat diadakan tiap saat jika dipandang perlu.”

    “Dalam tahun 1937 mereka telah mengancam kita waktu PELTI hendak mengadakan turnamen kejuaraan yang ketiga. Mereka mengharuskan kita untuk masuk ke dalam ANILTB. Hal ini menimbulkan kegegeran di kalangan kita. Kemudian membicarakannya dalam rapat menentukan secara bulat bahwa PELTI harus merupakan suatu organisasi nasional seperti halnya dengan PSSI. Kerja sama dengan lainnya permainan dengan sendirinya selalu kita usahakan dengan giat.”

    Dengan menegaskan bahwa “PELTI harus merupakan suatu organisasi nasional yang tetap seperti halnya dengan PSSI” , maka makin jelas sikap persatuan tennis Indonesia yang patriotic.

    Dalam keadaan demikian, PELTI tidak ingin memhahi huta. PELTI memilih menggescr scat herlangsung pertandingan tahunannya, dari hari-hari Libur Natal (Desember) ke hail liburan Paskah. Dengan demikian, rncreka menghindari hentrokan – yang tidak( prinsip – dengan kegiatan pertandingan ANILTB. itulot rnulai dilakukan PELTI saat merayakan lustrumnya yang

    pertama, 1939. pada tahun itu pula herlangsung kongresnya yang pertama.

    Pertandingan yang berlangsung di pasir . Kaliki, Bandung ? lapangan baru dan bagus, dan berkat jasa baik F. Buse – mempertemukan Samhoedjo dan Panarto di final tunggal putra. Pertarungan in dimenangkan oleh Samhoedjo, yang sekaligus menjadi juara untuk ketiga kalinya. Mahkota juara tunggal putri diraih oleh adiknya, Soelastri, yang juga berarti mempertahankan juara untuk tiga kali beruntun. Juara ganda putra digondol pasangan Santos/Sanjoto Hoerip, untuk kedua kali berturut-turut. Keperkasaan Keluarga Hoerip di lapangan tennis dikukuhkan oleh pasangan Soelastri/Soeharniati, yang merampas juara ganda wanita, untuk ketiga kali pula.

    Dalam kcadaan tetap diincar oleh ANILTB, permasalahan keanggotaan PELTI tetap menjadi ganjalan. Baru setelah kongres pertamanya, 30 April 1939, masalah keanggotaan ini dibicarakan lebih sungguh-sungguh. Toh selama empat tahun sejak berdirinya, hanya berbekal tekad sekelompok orang, PELTI membuktikan dirinya mampu bertahan. Malahan, organisasi ini berhasil menyelenggarakan kejuaraan tahunannya, dengan peserta yang kian bertambah dan mute yang makin baik.

    Saat inilah PTIB dengan resmi menjadi anggota PELTI. Kcjuaraannya dibakukan sebagai “Kejuaraan Tennis Indonesia” . Mutunya yang kian meningkat diakui oleh surat kabar A.1.D. de Preangerbode, 3 Mei 1939. Surat kabar yang terkenal reaksioner ini menulis:

    “Semua juara digondol oleh kelurga Hoerip. Turnamen yang diikuti oleh banyak pemain kuat.”

  3. “Jika ada suatu turnamen tennis yang sungguh dapat dibanggakan, justru itulah kejuaraan Indonesia yang baru diselenggarakan PELTI ini. Jarang sekali – terutama di Bandung – kita menyaksikan suatu turnamen tennis, dan tenama yang diselenggarakan dengan rapih dan bagus sekali.”

    “Mengenai organisasi yang bagus ini, terus terang, di Bandung ini jarang sekali kita saksikan, lebih-lebih pada waktu akhir-akhir ini. Dalam hal pengorgaisasian, ternyata PTIB melebihi perkumpulan lain di kota ini. Mengenai umpires dan linesmen misalnya, lama sebelum turnamen dimulai telah disiapkan orang-orangnya. Mr. Oesman dan kawan-kawan telah membuktikan bagaimana seharusnya menyelenggarakan sebuah turnamen yang baik. … Kepada mereka kita sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.”

    “Bukan segi organisasi saja, tapi dari sudut pcrmainan pun turnamen telah sangat berhasil …”

    Era pengembangan PELTI ditutup dengan kejuaraan tennis nasional di Surabaya, 1940. Pada kesempatan ini, seluruh jago-jago tennis Indonesia ikut serta, kecuali Samboedjo Hoerip. Gelar tunggal putra diraih A.A. Katili dari Jakarta, yang menundukkan Lantip di final. Ganda putra dijuarai Panarto/Doelrachman. Pada kesempatan inilah Iahir dua pemain berbakat besar, Tan Liep Tjiauw dari Blitar, dan Toto Soetarjo dari Bandung.

    Perlu ditambahkan sedikit mengenai gebrakan-gebrakan PELTI, terutama kegiatan yang berlangsung dalam rangka lustrumnya yang pertama di Bandung. Banyak pihak yang menganggap bahwa dari Bandunglah kemenangan telah dimulai; keadaan kartu yang dimainkan menunjukkan kekuatan telah berada di tangan kita. Kenyataan ini tampaknya disadari oleh Tuan Janz, ketua Bandoengsche Tennis Unie (BTU). Menyaksikan turnamen di Bandung atas undangan, konon dialah yang menyarankan epada ANILTB agar mengakui saja PELTI sebagai induk organisasi tennis, sehingga dapat berjalan berdampingan dalam suasana yang bersahahat. Dengan demikian Janz berharap berbagai turnamen ANILTB tidak akan ditinggalkan para pemain Indonesia.

    Entah karena nasehat Janz atau karena situasi internasional yang memburuk, atau karena kedua-duanya, ternyata ANILTB mulai mengambil sikap yang terkesan tidak memusuhi PELTI lagi. Yang jelas, minimal mereka telah menghentikan kasak-kusuknya kepada PELTI dan para anggotanya.

    Pihak PELTI sendiri, yang sejak mula berasas mau hekerja sama dengan organisasi mana pun juga, menghargai perubahan sikap ini dengan diam-diam. Perubahan status quo itu dinilai membuktikan bahwa kekuatan organisatoris telah beralih ke pihak Indonesia. Sementara PELTImenyelenggarakan kejuaraan tahunan keenamnya di Surabaya, yang diselenggarakan oleh Indonesische Tennis Organisatie Surabaya (ITOS), ANILTB tak sempat lagi mengadakan jaarlijksche kampioenschappennya. Tampaknya serbuan Pasukan NAZI ke Negeri Belanda mempengaruhinya.

  4. Masa Nonaktif (1941-1949)
    Getaran Perang Dunia II mulai mengimbas ke Nusantara. Pemerintah kolonial dan orang-orang Belanda mulai kalang-kabut, dan lalu lari terbirit-birit begitu pasukan pendudukan Jepang menjejakkan kakinya di Indonesia. Semua orang yang asing dan pribumi, mulai hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

    Pada masa pendudukan Jepang ini, kegiatan PELTI pun terhenti. Bukan saja karena keadaan ekonomi yang kian suram, tetapi juga karena kaum penjajah baru melakukan pembuharan semua organisasi, yang politik, sosial, maupun olah raga. Seluruh kegiatan kemudian dihimpun dalam saw wadah yang disebut Tai Iku Kai ( “Persaudaraan Nippon-Indonesia” ).

    Selama masa ini, hanya dua kali Tai Iku Kai menyelenggarakan kejuaraan tennis. Yang pertama, 1942, yang mengikutsertakan seluruh petennis di Jawa, menampilkan Tan Liep Tjiauw sebagai juara tunggal putra setelah di final menundukkan A.A. Katili. Di nomor ganda putra, Tan Liep Tjiauw yang herpasangan dengan Oei Beng Liem mengalahkan Soeharto/Srinado di final. Pada kejuaraan kedua, 1943, juara tunggal diraih A.A. Katili setelah di final mendepak Ketje Soedarsono.

    Pada zaman serba susah itu, kejuaraan utama para petennis bagaimana mendapatkan bola dan raket – kalau pun ads itu pun merupakan stok dari zaman Belanda. Di kota-kota kecil kesulitan yang lebih parah menjadikan tennis olahraga tabu.

    Pembentukan Gerakan Latihan olah Raga Rakyat (Gelora) pada ambang keruntuhan Jepang, 1944, sebagai ganti Tai Iku Kai, tak banyak menolong. Situasi yang nonaktif dan mandek ini Nikon saja menahan lahirnya bakat-bakat baru, tetapi juga menyendatkan perkembangan bibit-bihit yang mulai tumbuh. Itulah yang dialami Doelrachman, Ketje Soedarsono, dan Toto Soetarjo. Perang malahan merenggut petennis andal Samboedjo Hoerip.

    Kalau di zaman Jepang sekali-sekali masih ditemui orang hermain tennis, di masa awal kemerdekaan Indonesia seluruh upaya tercurah kepada penyelamatan Republik yang baru, Iahir. Keadaan ini tentu tidak bcrlaku di kawasan pendudukan Belanda.

    Kegiatan olahraga mulai dibangkitkan pada 1947, dengan berlangsungnya Kongres Olahraga, Januari tahun itu. Salah satu keputusannya adalah: Gclora warisan jepang dikuburkan, dan Persatuan Olah Raga Republik Indonesia (PORI) dinyatakan berdiri. Seluruh induk kegiatan olahraga, seperti PSSI, PAST (atletik), dan PELTI, dihidupkan kembali dan ditetapkan sebagai anggota otonom PORI. (PORI pada hakekatnya nama baru bagi Ikatan Sport Indonesia (ISI) dari zaman sebelum Perang Dunia II, yang diketuai Soetardjo).

    Tahun berikutnya, 1948, berlangsung Pekan Olah Raga Nasional (PON) I, di Solo. Tennis termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan. Meski PON pertama ini tak sempat menghadirkan sejumlah pemain tennis kawakan, tapi peristiwa tersebut merupakan titik tolak b angkitnya rasa kebersamaan dan persatuan, khususnya di kalangan olahragawan, termasuk di antara para petennis. Pertandingan tennis PON I menampilkan Toto Soetarjo dan Nyonya Soedomo sebagai juara tunggal putra dan putri. Sedang ganda putra dan campuran masing-masing direhut oleh pasangan Soejono Toto Soetarjo dan Mapaliey/Nyonya Soedomo.

 

http://olahragaancha.blogspot.com/2011/02/sejarah-tenis-di-indonesia.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s